Name : Ignatius Vence Hermawan
NPM : 15114103
Class : 4KA10
1st Task of Softskill
1. Question: Modern humans, who first appeared about 600,000 years ago, ______________ Homo Sapiens.
a. Calling b. Were called c. They called d. They were called
Answer: D. They were called
Reason : The main topic of the sentence is separated by commas, so it need “They were called” referring the main topic
2. Question: What year did you ….. university?
a. graduate b. graduate from c.graduating d. graduating from
Answer: B. graduate from
Reason
: The sentence identified as question, so the verb need to be simple,
and “from” as a complementary where the graduating take place
3. Question: An iron smelting forge ______________ ore into usable metals
a. Melts b. is melting c. melting d.should
Answer: A. Melts
Reason : The passive sentence which “melts” refer to the process from iron smelting forge into usable metals
4. Question: They ______ to US three times.
a. Are b. was c. been d. Have been
Answer: D. Have been
Reason
: “Three times” indicate that it is happen continuously, which means
that sentence need “been” and “have” for plural subject
5. Question: Mr. Postman delivers the mails to this office before 9 a.m.
A B C D
Answer: B. mail
Reason : The word “delivers” already indicate that it is happen continuously, so the “mails” should be “mail”
6. Question: A friend of mine which father is the manager of a company helped me to get a job.
A B C D
Answer: A. which
Reason : “Friend of Mine” is a subject, then it need “whose” as a pronoun
7. Question: The manager has finished working on the report last night, and now she will begin to write the other proposal.
A B C D
Answer: B. working
Reason : It doesn’t need any verb when it already has a pronoun “has finished”
8. Question: While Maria was cleaned the room, her husband slept.
A B C D
Answer: B. was cleaned
Reason : The sentence indicate that it’s happen at the moment so the words “cleaned” should be cleaning
Rabu, 28 Maret 2018
Kamis, 14 Januari 2016
DESIGN DAN STRUKTUR ORGANISASI
Secara garis besar desain organisasi
terbagi dua, antra lain :
1. Desain organisasi
umum
a.Struktur sederhana
Struktur
sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar departementalisasi
yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat pada seseorang
saja, dan sedikit formalisasi. banyak dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di
mana manajer dan pemilik adalah orang yang satu dan sama.
b. Birokrasi
Birokrasi
adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui
spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang
dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat,
rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai
komando.
c. Struktur Matriks
Struktur Matriks adalah sebuah struktur yang
menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi
fungsional dan produk.
2.
Struktur organisasi modern
a
Struktur tim
Struktur tim adalah
pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk mengkoordinasikan
kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim adalah bahwa struktr
ini meniadakan kendala-kendala departemental dan mendesentralisasi pengambilan
keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga mendorong karyawan untuk
menjadi generalis sekaligus spesialis.
b. Organisasi virtual
Organisasi virtual adalah
organisasi inti kecil yang menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara
detail.
c. Organisasi nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha menghapuskan
rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan mengganti departemen
dengan tim yang diberdayakan.
Dimensi Struktur Organisasi
1. Formalisasi
Formalisasi mengacu derajat dimana
segala harapan mengenai cara dan tujuan pekerjaan dirumuskan, ditulis dan
diberlakukan. Suatu organisasi yang sangat formal, akan memuat prosedur dan
aturan yang ketat dalam setiap kegiatan / pekerjaan di dalam organisasi.
2.
Sentralisasi
Sentralisasi merupakan dimensi
struktur organisasi yang mengacu pada derajat dimana kewenangan untuk mengambil
keputusan dikuasai oleh manajemen puncak. Hubungan sentralisasi dengan empat
desain keputusan adalah sebagai berikut : Semakin tinggi spesialisasi kerja,
semakin besar sentralisasi, Semakin sedikit kewenangan yang didelegasikan,
semakin besar sentralisasi, Semakin besar penggunaan departemen berdasarkan
fungsi, semakin besar sentralisasi, Semakin luas rentang kendali, semakin besar
sentralisasi.
3.
Kerumitan
Kerumitan (complexity) adalah suatu struktur organisasi yang mengacu pada jumlah pekerjaan atau unit yang berbeda dalam organisasi.
Kerumitan (complexity) adalah suatu struktur organisasi yang mengacu pada jumlah pekerjaan atau unit yang berbeda dalam organisasi.
DEPARTEMENTALISASI
Departementalisasi adalah proses
penentuan cara bagaimana kegiatan yang dikelompokkan.
a.Departementalisasi
fungsional mengelompokkan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan
sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi. Organisasi fungsional ini
barangkali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar
departementalisasi.
kebaikan utama pendekatan fungsional
adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi- funsi
utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan keahlian
organisasi dan memungkinkan pegawai manajemen kepuncak lebih ketat terhadap
fungsi-fungsi.
b.Divisionalisasi
produk adalah pola logika yang dapat diikuti bila jenis-jenis produk mempunyai
teknologi pemrosesan dan metode-metode pemasaran yang sangat berbeda satu
dengan yang lain dalam organisasi. Sturktur organisasi divisional atas dasar
wilayah.
c..Departementalisasi
wilayah , kadang-kadang juga disebut depertementalisasi daerah , regional atau
geografis , adalah pengelompokkan kegiatan-kegiatan menurut tempat dimana
operasi berlokasi atau dimana satuan-satuan organisasi menjalankan usahanya.
Model-model Design Organisasi
Pada penerapannya, model desain
orgranisasi terdiri dari 2 model, yaitu Desain organisasi Mekanistik dan Desain
organisasi orgranik.
1. Desain Organisasi Mekanistik.
Proses kepemimpinan tidak mencakup persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan.
Proses motivasi hanya menyadap motif fisik, rasa, aman, dan ekonomik melalui perasaan takut dan sanksi.
Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir ke bawah dan cenderung terganggu tidak akurat.
Proses interaksi bersifat tertutup dan terbatas, hanya sedikit pengaruh bawahan atas tujuan dan metode departemental.
Proses pengambilan keputusan hanya di tingkat atas, keputusan Relatif.
Proses penyusun tujuan dilakukan di tingat puncak original, tanpa mendorong adanya partisipasi kelompok.
Proses kendali dipusatkan dan menekankan upaya memperhalus kesalahan.
Proses kepemimpinan tidak mencakup persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan.
Proses motivasi hanya menyadap motif fisik, rasa, aman, dan ekonomik melalui perasaan takut dan sanksi.
Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir ke bawah dan cenderung terganggu tidak akurat.
Proses interaksi bersifat tertutup dan terbatas, hanya sedikit pengaruh bawahan atas tujuan dan metode departemental.
Proses pengambilan keputusan hanya di tingkat atas, keputusan Relatif.
Proses penyusun tujuan dilakukan di tingat puncak original, tanpa mendorong adanya partisipasi kelompok.
Proses kendali dipusatkan dan menekankan upaya memperhalus kesalahan.
2. Desain Orgranisasi Orgranik.
Proses kepemimpinan mencakup
persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan antara atasan dan bawahan dalam
segala persoalan.
Proses motivasi berusaha menimbulkan motivasi melalui metode Partisipasi.
Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir secara bebas keseluruh orgranisasi yaitu ke atas ke bawah dan kesamping.
Proses interaksi bersifat terbuka dan ekstensif, bai atasan ataupun bawahan dapat mempengaruhi tujuan dan metode partemental.
Proses pengambilan keputusan dilaksanakan di semua tingkatan melalui proses kelompok.
Proses penyusunan tujuan mendorong timbulnya partisipasi kelompok untuk menetapkan sasaran yang tinggi dan realistis.
Proses kendali menyeber ke seluruh orgranisasi dan menekan pemecahan masalah dan pengendalian diri.
Desain organisasi yang efektif tidak dapat berpedoman pada teori sebagai satu cara terbaik melainkan manajer harus menerima sudut pandang bahwa desain mekanistik atau desain organik lebih efektif bagi organisasi atau sub-sub untit di dalamnya.
Proses motivasi berusaha menimbulkan motivasi melalui metode Partisipasi.
Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir secara bebas keseluruh orgranisasi yaitu ke atas ke bawah dan kesamping.
Proses interaksi bersifat terbuka dan ekstensif, bai atasan ataupun bawahan dapat mempengaruhi tujuan dan metode partemental.
Proses pengambilan keputusan dilaksanakan di semua tingkatan melalui proses kelompok.
Proses penyusunan tujuan mendorong timbulnya partisipasi kelompok untuk menetapkan sasaran yang tinggi dan realistis.
Proses kendali menyeber ke seluruh orgranisasi dan menekan pemecahan masalah dan pengendalian diri.
Desain organisasi yang efektif tidak dapat berpedoman pada teori sebagai satu cara terbaik melainkan manajer harus menerima sudut pandang bahwa desain mekanistik atau desain organik lebih efektif bagi organisasi atau sub-sub untit di dalamnya.
Contohnya :

Type strukturalnya adalah vertikal
Departementalisaasinya adalah
fungsional , karena semua bidang dikelompokkan menjadi satu organisaasi dengan
banyak bidang tertentu atau keahlian tertentu
Sumber: http://persesis.blogspot.co.id/2016/01/desain-dan-struktur-organisasi.html
KEPEMIMPINAN
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin
kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi.
Jenis-Jenis Kepemimpinan
Jenis-Jenis Kepemimpinan
1. Kepemimpinan
Otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang sebagian besar
mutlak tetap berada pada pimpinan atau pimpinan itu mengganti sistem
sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijakan hanya ditetapkan
sendiri oleh pimpinan. Bahwa tidak diikutsertakan untuk memberikan saran, ide
dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
2. Kepemimpinan
Partisipatif
Kepemimpinan partisipatif adalah apabila di dalam kepemimpinannya dilakukan
secara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan realitas dan
pertisipasi para bawahan, pemimpin motivasi bawahan agar merasa ikut memiliki
perusahaan. Pemimpin dengan cara partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan
dalam hal mengambil keputusan. Dengan demikian, pemimpin yang selalu membina
bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.
3. Kepemimpinan
Delegatif
Kepemimpinan delegatif apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenang
kepada bawahan dengan agak lengkap dengan demikian bawahan dapat mengambil
keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
pekerjaannya. Pemimpin yang tidak peduli cara bawahan mengambil keputusan dan
mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada bawahan.
4. Kepemimpinan
Situasional
Fokus pendekatan situasional terhadap kepemimpinan terletak pada perilaku
yang di observasi atau perilaku nyata yang terlihat, bukan pada kemampuan atau
potensi kepemimpinan yang dibawa sejak lahir. Penekanan pendekatan situasional
adalah pada perilaku pemimpin dan anggota dan pengikut dalam kelompok dan
situasi yang variatif. Menurut kepemimpinan situasional tidak ada satupun cara
terbaik untuk mempengaruhi orang lain. kepemimpinan yang harus digunakan
terhadap individu atau kelompok tergantung pada tingkat kesiapan pada orang
yang akan dipengaruhi.
Gaya-Gaya/Model-Model.
1. Gaya
Kepemimpinan Otoriter
Gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Pemimpin tipe otoriter mempunyai sifat sebagai berikut:
a. Pemimipin organisasi sebagai miliknya
b. Pemimpin bertindak sebagai dictator
c. Cara menggerakkan bawahan dengan paksaan dan ancaman.
Gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Pemimpin tipe otoriter mempunyai sifat sebagai berikut:
a. Pemimipin organisasi sebagai miliknya
b. Pemimpin bertindak sebagai dictator
c. Cara menggerakkan bawahan dengan paksaan dan ancaman.
Kelebihan:
- Seorang pemimpin otoriter
biasanya bersifat pekerja keras dan memiliki disiplin tinggi.
-Penentuan keputusan lebih cepat karena tidak
menggunakan musyawarah atau diskusi.
Kelemahan:
- Bawahan tidak memiliki kesempatan
untuk mengemukakan pendapat atau ide-ide baru.
- Kurangnya komunikasi antara
pimpinan dan bawahan.
- Bawahan kurang dilibatkan
dalam pengambilan keputusan.
2. Gaya
Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh.
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh.
Kelebihan:
- Memberikan kebebasan yang besar
kapada kelompok untuk mengadakan kontrol terhadap
supervisor.
- Merasa lebih bertanggung
jawab dalam menjalankan pekerjaan.
- Produktivitas lebih tinggi
dari apa yg diinginkan manajemen dg cat bila situasi memungkinkan.
- Pemimpin & bawahan
dapat saling mengenal & mengerti lebih dalam tentang hubungan kemanusiaan.
Bawahan dapat membantu pemimpin dalam menghadapi persoalan, jadi dapat saling
mengisi kekurangan dan dapat saling mengisi.
Kelemahan:
- Banyak membutuhkan komunikasi dan
koordinasi.
- Membutuhkan waktu yang
relatif lama dalam mengambil keputusan.
- Memberikan persyaratan
tingkat “skilled” (kepandaian) yang relatif tinggi bagi pemimpin.
- Dibutuhkan adanya toleransi
yg besar kpd kedua belah pihak karena jika tidak dapat menimbulkan kesalah
pahaman.
3. Gaya
Kepemimpinan Bebas
Pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan bebas :
- Pendegasian wewenang terjadi secara ekstensif
- Pengambilan keputusan diserahkan kepada pimpinan yang lebih rendah
- Status quo organisasional tidak terganggu
- Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan kepada anggota organisasi
- Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimal
- Pendegasian wewenang terjadi secara ekstensif
- Pengambilan keputusan diserahkan kepada pimpinan yang lebih rendah
- Status quo organisasional tidak terganggu
- Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan kepada anggota organisasi
- Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimal
Kelebihan:
- Ada kemungkinan bawahan
dapat mengembangkan kemampuannya, daya kreativitasnya untuk memikirkan dan
memecahkahkan serta mengembangkan rasa tanggung jawab.
- Bawahan lebih bebas untuk
menunjukkan persoalan yang dianggap penting sehingga proses penyelesaianya
lebih cepat.
Kelemahan:
- Bila bawahan terlalu bebas
tanpa pengawasan, terjadi penyimpangan dari peraturan yang berlaku dari bawahan
serta mengakibatkan salah tindak dan memaka bayak waktu bila bawahan kurang
pengalaman.
- Pemimpin sering sibuk
sendiri denga tugas-tugas dan terpisah dari bawahan.
Kelompok dapat mengkambing hitamkan sesuatu, kurang stabil, frustasi dan merasa kurang aman.
Kelompok dapat mengkambing hitamkan sesuatu, kurang stabil, frustasi dan merasa kurang aman.
Teori-Teori Kepemimpinan
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
– pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
– sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
– kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
– pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
– sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
– kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b. berorientasi kepada bawahan dan
produksi
Perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
3.
Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:
a. Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
b. Model ” Interaksi
Atasan-Bawahan”
Menurut model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
* Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik;
* Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi;
* Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
Menurut model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
* Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik;
* Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi;
* Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c. Model Situasional
Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah
* Memberitahukan;
* Menjual;
* Mengajak bawahan berperan serta;
* Melakukan pendelegasian.
Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah
* Memberitahukan;
* Menjual;
* Mengajak bawahan berperan serta;
* Melakukan pendelegasian.
d. Model ” Jalan- Tujuan “
Seorang pemimpin yang efektif menurut
model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh
bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan
tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan
dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal
tersebut harus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.
e. Model “Pimpinan-Peran serta
Bawahan”
Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.
Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.
Pengambilan Keputusan dan Kepemimpinan
Salah satu peran dan fungsi seorang pemimpin adalah penentu keputusan bagi
sebuah komunitas atau sebuah organisasi. Maka seorang atau sekelompok pemimpin
dituntut oleh statusnya untuk memiliki kemampuan yang baik dalam pengambilan keputusan.
Kemampuan yang baik dalam pengambilan keputusan harus tercermin pada tiga
hal: cara, hasil keputusan dan kemampuan
menyampaikan hasil keputusan. Hasil keputusan dari seorang pemimpin harus
bisa diterima oleh orang-orang yang dipimpin; namun penerimaan tersebut sangat
dipengaruhi oleh cara atau proses mengenai bagaimana keputusan itu diambil.
Karena kewenangan yang dimiliki oleh pemimpin itu merupakan kewenangan yang
diberikan oleh orang-orang yang dipimpin, maka proses pengambilan keputusan
harus bisa dikontrol dan dipertanggung-jawabkan kepada yang memberi wewenang.
Untuk menghasilkan proses pengambilan keputusan yang baik, yang transparan dan
terukur, pemimpin harus menetapkan mekanisme dan nilai-nilai acuan pengambilan
yang dapat diakses oleh orang-orang yang dipimpin.
Contoh Kepemimpinan
Memimpin
Lingkungan Masyarakat Sekitar
Dalam hal ini tak jauh berbeda dengan cara kepemimpinan pada umumnya, yang tentu harus demokratis terutama kebebasan dalam berpendapat dan tidak boleh adanya kesewenang-wenangan dalam memimpin masyarakat yang majemuk yang hidup dan tinggal dalam kondisi dunia yang semakin canggih, sehingga menjadikan mereka masyarakat yang cepat, tanggap dan kritis dalam menghadapi berbagai persoalan kepemimpinan.
Sumber : http://persesis.blogspot.co.id/
Kamis, 19 November 2015
Permasalahan Lingkungan dan Sampah di Jakarta.
Permasalahan
Lingkungan di Jakarta merupakan masalah yang amad rumit di kota metropolitan
tersebut. Dari banjir, ruang terbuka hijau, hingga sampah yang akhir-akhir ini
diributkan dalam media. Semua masalah tersebut sudah ada bahkan dari jaman
kolonialisme Belanda , salah satunya banjir. Masalah yang paling inti dalam
masalah lingkungan di atas adalah karena adanya ketidaksadaran dan
ketidakpedulian warga kepada lingkungan.
Banjir sudah menjadi masalah Jakarta
semenjak jaman penjajahan Belanda. Sumber masalahnya ternyata mudah, Sampah
yang menyumbat tiap selokan dan sungai adalah menjadi biang keladi terjadinya
banjir. Belum pula hujan yang terus menerus mengguyur pada saat musim hujan.
Warga Jakarta pun serentak menyalahkan Kota Bogor dan sekitarnya yang notabene
kontur wilayahnya lebih tinggi dari Jakarta dan menyatakan sampah tersebut
bukan dari Jakarta.
Penanganan dan pencegahan sudah
dilakukan, diantaranya dengan dibuat waduk, ruang terbuka hijau, revitalisasi
sungai dan selokan, hingga relokasi warga kali guna revitalisasi sungai. Namun
masalah timbul kembali. Masyarakat yang jelas-jelas tinggal di tanah milik
negara tidak ingin dipindahkan dari bantaran kali ataupun tempat proyek Ruang
Terbuka Hijau (RTH) juga waduk.
Padahal sudah jelas, Jakarta butuh
membenahi secara total untuk masalah lingkungan ini demi kenyamanan warganya.
Namun pemikiran dan pemahaman warga asli dan pendatang yang masih terbilang
dangkal soal lingkungan belum ditambah ketidakpedulian mereka. Protes datang
dari warga bahkan hingga membawa ormas secara besar-besaran melawan pemerintah
dengan membawa nama “Kemanusiaan” dan menjelek-jelekan pemerintah seperti
binatang yang asal menggusur. Padahal sudah jelas tanah yang mereka tinggali adalah
punya pemerintah. Pada saat mereka akan digusur mereka sudah diberi surat agar
diberi waktu untuk bersiap dan pindah
Lain cerita, warga menyatakan bahwa
tidak mendapatkan surat peringatan atau pemberitahuan apaapun dari pemerintah
setempat. Beberapa warga bahkan mendapat tempat tinggal gratis, dan ada yang
diberi ganti rugi juga. Sampai hari ini juga masih banyak warga yang tidak mau
dipindahan untuk proyek sungai dan RTH. Masalah belum selesai akhir-akhir ini
merebak masalah karena adanya penolakan warga sekitar TPA Bantar Gebang yang
tidak mau adanya sampah yang masuk ke TPA mereka.
Alasan yang dibuat sama mudah dan
anehnya seperti proyek revitalisasi sungai,pembuatan waduk dan RTH. Ada dari
mereka bilang sangat menganggu bau dari sampah Jakarta tersebut yang
dipindahkan ke TPA Bantar Gebang. Padahal pada saat awal pembuatan TPA tersebut
pada waktu dulu, warga juga sudah diperingatkan agar segera pindah. Masalah
meluas hingga adanya bau politik dan ekonomi yang melibatkan banyak pihak.
Padahal saat itu musim hujan akan segera tiba, sampah tentu harus segera
diproses supaya tidak menjadi penyebab banjir dan masalah lainnya.
Jakarta masih mempunyai banyak
masalah soal lingkungan. Semua berasal dari ketidaksadaran dan ketidakpedulian
masyarakatnya akan kenyamanan, keamanan serta keselamatan diri mereka sendiri.
Ketika bencana sudah datang yang warga salahkan adalah lagi dan lagi,
pemerintah. Semoga pemerintah dapat saling berkomitmen dengan warga agar dapat
menciptakan Jakarta yang semakin nyaman ditinggali.
Langganan:
Postingan (Atom)